Warta

SAMBUTAN KETUA PCNU KABUPATEN KUNINGAN DALAM RANGKA PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN RI KE-80

Oleh : DR.KH.Aminuddin SHI MA

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Yang saya muliakan para masyayikh, para alim ulama, jajaran pemerintah daerah, para tokoh masyarakat, serta hadirin yang berbahagia.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Atas izin dan rahmat-Nya, kita masih diberi kesempatan berkumpul dalam suasana penuh khidmat, untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan adalah anugerah agung dari Allah, tetapi bukan hadiah yang datang dari langit tanpa perjuangan. Ia lahir dari tetesan darah, air mata, dan doa-doa panjang para pahlawan.
Jika bangsa ini diibaratkan sebuah pohon, maka kemerdekaan adalah buah manisnya. Tetapi jangan lupa, pohon itu hanya bisa berbuah karena ada akar yang kokoh—dan akar itu adalah perjuangan para ulama, santri, dan seluruh pejuang bangsa.
NU berdiri di barisan paling depan. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad telah mengumandangkan bahwa membela tanah air hukumnya fardhu ‘ain. Seruan itu membakar semangat rakyat hingga terjadilah pertempuran 10 November yang menggetarkan dunia.
Hadirin sekalian,
Hari ini kita tidak lagi mengangkat senjata. Musuh kita bukan lagi penjajah berseragam, melainkan kemiskinan, kebodohan, perpecahan, dan hilangnya akhlak.
Kalau dulu para pejuang melawan peluru, maka kita hari ini harus melawan kelalaian. Kalau dulu musuh datang dari luar, kini musuh bisa datang dari dalam diri: sikap egois, apatis, dan hilangnya kepedulian sosial.
Kemerdekaan ibarat sungai yang jernih. Apabila kita rawat, ia akan terus mengalir memberi kehidupan. Tetapi bila kita kotori dengan kezaliman dan perpecahan, ia akan menjadi keruh dan membahayakan. Maka tugas kita sebagai warga NU, sebagai umat Islam, sebagai bangsa Indonesia adalah menjaga sungai kemerdekaan ini tetap bersih, jernih, dan mengalir hingga generasi mendatang.
Hadirin yang saya hormati,
Mari kita jadikan NU sebagai lentera yang terus menyinari negeri, pelindung bagi yang lemah, penguat ukhuwah, dan penjaga keutuhan NKRI.
Mari kita isi kemerdekaan dengan ilmu, amal, dan akhlak mulia.
Akhirnya, dengan penuh semangat saya ingin mengajak kita semua untuk mengumandangkan tekad bersama:
“Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajah,
tetapi juga bebas dari kebodohan,
bebas dari kemiskinan,
dan bebas dari perpecahan.
Mari kita rawat Indonesia dengan cinta,
karena hubbul wathan minal iman—cinta tanah air adalah bagian dari iman.”
Wallahu al-muwaffiq ila aqwamith thariq.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button